Bali… Tahukah anda bahwa mendengar nama Bali, pastilah akan terbayang dengan pesona yang akan ditawarkannya. Pulau Dewata Bali adalah salah satu pulau kebanggaan bagi negara tercinta Indonesia. Bali selalu menarik karena karakter masyarakatnya, prosesi keagamaannya, dan juga suku yang masih kental dengan kehidupan tradisionalnya. Salah satu suku tersebut bernama Suku Bali Aga yang dapat ditemukan di Desa Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Jika kalian penasaran tentang bagaimana kehidupan suku bali pada zaman dahulu, disini lah tempatnya. Desa Tenganan masih kental dengan adat istiadat lama, berbeda dengan masyarakat Bali di daerah perkotaan seperti Kuta dan Denpasar. Desa ini terbilang unik dan memiliki daya tarik tersendiri. Sebab itu, mengunjungi desa ini akan menjawab rasa penasaran akan uniknya tersebut. 

Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan
Rumah Adat Tenganan

Desa Tenganan Suku Bali Aga

Masyarakat DesaTenganan dikenal sebagai Bali Aga atau Bali Mula atau warga suku Bali asli. Sebuah suku di pulau Bali, sebagai cikal bakal munculnya peradabadan di Bali. Desa yang terletak cukup terpencil  di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa Tenganan ini sangat memegang teguh adat istiadatnya dan cara berpakaian mereka yang masih sederhana. Masyarakat di desa ini menggunakan bahasa halus Bali yang setiap banjarnya memiliki keunikan logat dan variasi bahasa meski bertempat di satu desa. Untuk mencapai desa ini dapat melalui jalan darat berjarak sekitar 60 km dari kota Denpasar.

Desa ini terbagi menjadi 5 banjar dinas yaitu Banjar dinas Tenganan Pagringsingan, Tenganan Dauh Tukad, Tenganan Gumbung, Tenganan Bukit Kangin dan Tenganan Bukit Kauh. Desa ini masih sangat tradisional dan jauh dari pengaruh budaya modern, budaya asing serta teknologi yang amat pesat di zaman sekarang ini. Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik dan sepeda motor masuk ke Desa Tenganan, tetapi rumah dan adat istiadat tetap dipertahankan seperti aslinya sehingga tetap unik dan alami.

Ini karena masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awig  yang sudah tertulis sejak abad 11 dan sudah diperbarui pada tahun 1842. Masyarakat di desa ini sangat mentaati aturan tersebut dan tidak pernah merasa malu bahwa meraka lambat dalam perkembangan zaman ini. Tetapi mereka juga sudah mengikuti teknologi dan belajar seperti yang ada di perkotaan dengan syarat tetap mentaati aturan yang ada di desa.

Sejarah Desa Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Diceritakan Raja Bedahulu memiliki kuda kesayangan yang bernama Kuda Onceswara. Saat melaksanakan Yadnya, Kuda Onceswara dijadikan kurban untuk upacara tersebut. Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Onceswara melarikan diri setelah ia tau bahwa ia akan dijadikan kurban. Kemudian Raja Bedahulu menugaskan Wong Peneges, prajurit Kerajaan Bedahulu untuk mencari Onceswara. Saat ditemukan ternyata kuda itu sudah mati.

Penemuan Onceswara yang mati itu pun disampaikan kepada Raja Bedahulu. Berita ini tentu saja membuat Sang Raja bersedih. Meskipun sedih, raja tetap menghargai jasa-jasa orang Paneges yang telah menemukan Onceswara. Sebagai hadiah, mereka diberikan kekuasaan atas tempat ditemukannya mayat Onceswara dengan luas sejauh bau busuk bangkai kuda itu bisa dicium. Namun orang-orang Paneges cukup cerdik. Mereka memotong bangkai Onceswara dan potongan-potongan itu disebar ke segenap penjuru sehingga wilayah kekuasaan orang-orang Peneges menjadi lebih luas. 

 

Makna dan arti dari kata Gringsing

Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan. Menurut cerita masyarakat setempat, Tenganan berasal dari kata “ngatengahang” (bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung menjadi lebih ketengah karena abrasi laut yang parah.. Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari “tengen” (kanan), ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Peneges. Peneges berarti pasti atau tangan kanan, dan kata Pegringsingan diambil dari kata Gringsing yang terdiri dari kata “Gring yang berarti sakit“ dan “Sing yang berarti tidak”. Jadi Gringsing berarti tidak sakit.

Arsitektur Desa Bali Aga – Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Hal yang berbeda dapat anda temukan saat berkunjung ke Desa Tenganan Karangasem karena tetap menjaga kelestarian aturan-aturan adat pendahulunya, ini diantaranya, dari bentuk dan ukuran pekarangan, serta dengan tata letak bangunan termasuk pura dalam pekarangan, dibuat sesuai aturan adat, mempunyai ukuran relatif sama. Termasuk juga balai pertemuannya sangat mempertahankan adat dan tradisi yang sudah diwariskan secara turun temurun. Bahan bangunan masih menggunakan campuran dari tanah, batu sungai dan batu bata merah. Saat anda berada di tengah – tengah desa anda akan teringat tentang kehidupan masa lampau, dengan suasana pedesaan yang tenang dan jauh dari kebisingan hirup pikuk di perkotaan.

Desa ini tetap mempertahankan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Hal ini juga bisa kita dapatkan di Desa Pengelipuran Bali. Pasalnya peraturan desa adat/awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting di Desa Tenganan.

Hal Unik di Desa Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Banyak hal unik yang dapat ditemukan sangatlah banyak bahkan hanya bisa anda temukan jika datang kesini. Salah satu alasan mengapa budaya dan masyarakatnya tetap melestarikan budaya lama adalah karena di desa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa, jika itu dilanggar maka bagi yang melanggar akan dikenakan hukum adat. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotis, walaupun masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah. Dan sistem perkawinan yang diterapkan di desa Tenganan menganut Sistem Parental dan memberikan hak dan derajat yang sama bagi pihak perempuan dan laki-laki sebagai ahli waris, berbeda dengan budaya Bali pada umumnya yang memberikan pihak lelaki sebagai ahli waris utama. Aturan-aturan adat lainnya mengatur tentang pengelolaan kekayaan alamnya seperti adanya larangan menjual tanah ke luar wilayah desa, aturan pelarangan melakukan simpan pinjam dari bank.

Disini masyarakat saling bergotong royong dalam megerjakan segala upacara desa maupun segala aktivitas desa pasti selalu melibatkan seluruh warga desanya. Maka dari itu jika kalian kesana kalian akan merasakan rasa kekeluargaan, toleransi antar warga disana. Mendengar ini pasti sangat menarik bukan ???

Tradisi unik di Desa Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan 

Selain tentang awig- awig yang sangat dipatuhi oleh masyarakat ada pula budaya dan tradisi yang amat unik disana, Yaitu Mekare-kare atau Mageret Pandan (perang pandan) adalah salah satu tradisi unik di Desa Tenganan yang dilangsungkan dalam rangkaian upacara Sasih Sambah, sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra, sebagai dewa perang yang telah mengalahkan raja lalim Maya Denawa, digelar setiap setahun sekali pada Sasih Kalima kalender Bali. Pada saat acara digelar semua warga memakai pakaian adat, para wanita memakai pakaian dengan kain tenun khas Pegringsingan, sedangkan prianya tanpa pakaian atas, siap melakukan perang tanding di depan balai pertemuan desa (Bale Patemu) dengan seikat pandan dipegang ditangan yang akan dipakai menyerang lawannya. Tarian ini diiringi musik gambelan seloding, dimana seloding adalah alat musik daerah tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Ini menambah nilai kesakralan dan keunikan pada tarian ini.

Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan
Perang Pandan

Selain itu ada lagi yang menjadi tradisi unik disana yaitu Ayunan. Di Desa Tenganan ayunan yang dimainkan tingginya 5 meter. Inilah Tradisi Ngayun Damar dilakukan setahun sekali yang biasanya jatuh pada bulan Juni dan Juli setelah pegelaran Perang Pandan. Ayunan yang digunakan adalah ayunan warisan dari nenek moyang yang tidak boleh sembarangan dimainkan. Setelah dipasang, ayunan harus diupacarai terlebih dahulu sebelum dinaiki.

Truni Daha – Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Tradisi ayunan ini dimainkan oleh 8 orang gadis belia yang disebut dengan “Truni Daha”. Truni Daha ini nantinya akan dipilih lagi untuk mengenakan mahkota yaitu “Truni Daha Miik”. Gadis yang terpilih adalah yang belum pernah datang bulan. Permainan ayunan pun dimulai bertempat di halaman desa. 8 Truni Daha naik ke atas ayunan dan menempati posisi masing-masing. Di sebelah kanan, kiri tiang sudah siap dua orang pemuda yang akan mengayunkan ayunan. Ayunan pun diayunkan. Nampak wajah para Truni Daha terlihat senang dan riang namun ada juga yang sedikit takut karena tinggi dari ayunan ini. Sambil diiringi Gamelan Seloding yang dimainkan oleh para penabuh membuat suasana semakin meriah, dalam mengayuhkannya pun tidak sembarang harus diputar tiga kali ke arah selatan selanjutnya tiga kali kearah utara begitu juga seterusnya selama tiga kali berturut-turut. Makna dari tradisi ayunan ini secara sederhana untuk mempererat persahabatan dan kekompakan.

Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan
Adat Istiadat dan Budaya di Desa Tenganan

Selain nama desa tersebut adalah Gringsing, Gringsing juga merupakan kain tenun ikat ganda khas Tenganan, sehingga diyakini orang memakai kain Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit, dan yang lebih kompleks lagi yaitu gringsing adalah penolak mara bahaya. Kain ini diibuat dengan alat tenun dan motif tenun  khas Tenganan. Hal ini menjadi salah satu daya tarik ditempat ini, dan sebagai sumber penghasilan dari masyarakat di desa ini seperti Mereka menjual banyak kerajinan kepada para wisatawan seperti anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir di atas daun lontar yang sudah dibakar. Maka dari itu mereka tetap melangsungkan hidup mereka. 

Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan
Tenganan Karangasem Bali, Keunikan Kerajinan Kain Gringsing Tenganan

Bagaimana guys…. ??? Tertarik bukan untuk datang ke Desa Tenaganan Karangasem ini? Selama perjalanan pasti kalian akan dimanjakan dengan pemandangan alam sekitar dan sejuknya udara yang ada di pedesaan tersebut. Saat memasuki wilayah desa anda akan dikenakan sumbangan sukarela yaitu

 Donasi Rp 10.000 / orang.

 Parkir Rp 5.000 / mobil

Peta Lokasi Desa Tenganan Karangasem Bali

Datang ke Bali tentunya membutuhkan transportasi yang nyaman, apalagi obyek wisata yang menarik ada di tempat yang saling berjauhan.  Tenang…. Saya punya solusinya, jika anda sudah selesai membaca aritikel saya ini. Dan anda berniat mengunjunginya kami menyediakan Sewa Mobil Bali dan Paket Perjalanan Wisata Bali, yang dapat membantu anda untuk merasa tenang dan nyaman selama berada di Bali. Team Tiara Intan Bali Tours mengucapkan selamat berlibur di Pulau Dewata Bali.

Comments

    1. Selamat Malam
      Terimakasih telah membaca artikel saya dan semoga kami bisa memberikan informasi yang sangat berharga demi kemajuan dunia pariwisata khususnya di Bali.
      best Regard
      Tiara Intan Bali Tours

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *